Sejarah Ilmu Farmasi

Salam science!

Sebagai tulisan pertama, penulis ingin berbagi informasi sedikit mengenai “Ilmu Farmasi”. Mengapa Farmasi? Alasannya, karena para penulis di science.around.us ini merupakan dosen di Fakultas Farmasi Unpad. xoxo. Dimana, di ke ilmu an farmasi ini lah para penulis dengan bidang keahlian yang berbeda disatukan dan kemudian memiliki harapan yang sama, yaitu ingin mengajak teman-teman untuk mengenal science lebih dekat. Semoga teman-teman semakin bertanya-tanya mengenai ‘science around us’, karena rasa keingin tahuan merupakan awal mula dari ilmu pengetahuan.

Men love to wonder, and that is the seed of science – Ralph Waldo Emerson.

Esais , filsuf, penyair

Mungkin teman-teman sering dengar kata ‘dokter’, ‘perawat’ atau ‘bidan’?  Bagaimana dengan ‘farmasis’? Apa yang terbayang ketika mendengar kata farmasi? Bagi yang telah mengetahui apa itu farmasi, yang terbayang pastilah obat-obatan. Yap, istilah farmasi berasal dari kata “Pharmacon” (Bahasa Yunani) yang berarti Obat. Lalu, ‘apoteker’ itu apa? Untuk jenjang pendidikan tinggi strata 1 (S1) di Indonesia, bidang farmasi lebih dibentuk untuk menjadi apoteker dengan melanjutkan pendidikan profesi apoteker di jenjang selanjutnya.

So, farmasis atau apoteker merupakan suatu profesi di bidang kesehatan yang meliputi kegiatan-kegiatan di bidang penemuan, pengembangan, produksi, pengolahan, peracikan, informasi obat dan distribusi obat. Farmasi merupakan bidang yang besar, karena merupakan gabungan dari ilmu kesehatan, kimia maupun biologi.

Pada artikel kali ini, penulis akan membahas mengenai sejarah-sejarah penting dalam perkembangan ilmu farmasi secara singkat.

SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGAN FARMASI

Sejak dahulu nenek moyang bangsa Indonesia telah mengenal penggunaan obat tradisional (jamu) dan pengobatan secara tradisional (dukun). Pada zaman itu sebenarnya dukun melaksanakan dua profesi sekaligus, yaitu profesi kedokteran, (mendiagnose penyakit) dan profesi kefarmasian (meramu dan menyerahkan obat kepada yang membutuhkannya). Berikut merupakan tahun-tahun dan tokoh-tokoh yang penting dalam sejarah perkembangan Farmasi:

  • Tahun 2000 S.M., penggunaan obat dapat ditelusuri pada zaman kebudayaan Mesir dan Babilonia. Telah dikenal obat dalam bentuk tablet tanah liat (granul), dan bentuk sediaan obat lain. Saat itu juga sudah dikenal ratusan jenis bahan alam yang digunakan sebagai obat. Di Mesir, dikenal “Papyrus Ebers” merupakan kumpulan 800 resep yang terdiri dari 700 obat berbahan alam.
  • Pada zaman Yunani, pengetahuan tentang obat dan pengobatan berkembang lebih rasional ketika Hippocrates (460 S.M.) memperkenalkan metode dasar ilmiah dalam pengobatan. Hippocrates merasionalisasikan ilmu pengobatan dan meningkatkan profesi tabib pada taraf etik yang tinggi.
  • Tokoh Yunani lain bernama Galenus, seorang ahli meracik obat dari sari pati tumbuhan, sehingga keterampilan meracik obat dari sari pati tumbuhan ini kemudian dikenal dengan istilah Galenika.
  • Dalam zaman Yunani itu dikenal pula Asklepios atau Aesculapius (7 S.M.) dan puterinya Hygeia. Lambang tongkat Asklepios yang dililiti ular saat ini dijadikan lambang penyembuhan (kedokteran), sedangkan cawan atau mangkok Hygeia yang dililiti ular dijadikan lambang kefarmasian.
  • Perkembangan profesi kefarmasian pada abad selanjutnya dilakukan dalam biara, yang telah menghasilkan berbagai tulisan tentang obat dan pengobatan dalam bahasa latin yang hampir punah itu, sampai saat ini dijadikan tradisi dalam penulisan istilah di bidang kesehatan.
  • Pada abad kesatu, dikenal “Dioscorides”, sebagai penulis materia medika, yang berisi tentang tanaman obat.
  • Perkembangan kefarmasian yang pesat pula telah terjadi dalam zaman kultur Arab dengan terkenalnya seorang ahli yang bernama al-Saidalani pada abad ke-9.
  • Di Kota Montpellier, Perancis sekitar tahun 1180 terdapat satu ikrar yang dikenakan kepada sekumpulan ahli-ahli farmasi pada ketika itu. Ikrarnya berkaitan dengan aktivitas ahli farmasi dalam mengawasi obat-obatan.
  • Pada tahun 1240 Kaisar Frederick II mengeluarkan maklumat untuk memisahkan ilmu farmasi dan kedokteran, sehingga masing-masing ahli mempunyai kesadaran, standar etik, pengetahuan dan keterampilan sendiri, namun tetap mempunyai tujuan yang sama menolong orang sakit dan meningkatkan kesehatan manusia. ”Magna Charta” dalam bidang farmasi itu juga mewajibkan seorang Farmasis melalui pengucapan sumpah, untuk menghasilkan obat yang dapat diandalkan sesuai keterampilan dan seni meracik, dalam kualitas yang sesuai dan seragam. ”Magna Charta” kefarmasian ini dikembangkan sampai saat ini dalam bentuk Kode Etik Apoteker Indonesia dan Sumpah Apoteker. Ini merupakan sejarah yang penting bagi perkembangan kefarmasian.
  • Pemisahan farmasi dengan kedokteran dan menjadikannya satu bidang disiplin tersendiri memang telah diduga. Satu-satunya peristiwa yang mangarah kepada perkembangan tersebut adalah karya seorang yang bernama Paracelsus. Beliau merupakan seorang ahli kedokteran, ahli falsafah, ahli kimia dan ahli nujum Swiss pada abad yang ke-16. Sumbangan terbesarnya adalah mengutarakan beberapa prinsip baru tentang jasad manusia yang jauh lebih tepat dibanding dengan teori sebelumnya. Paracelsus memberi pengertian baru kepada pemahaman penyakit dan terapi menggunakan obat-obatan. Berbagai racikan mengenai obat mulai berkembang, seperti tingtur dan ekstrak. Paracelsus juga memperkenalkan logam-logam seperti logam berat: raksa, plumbum, kuprum emas dan besi sebagai bahan obat melalui pendekatan serta teknik ekstraksi yang berlainan. Ia juga  mempunyai hubungan yang dekat dengan Budaya Arab-Islam melalui  pendalaman beliau dalam bidang kimia.
  • Sejarah Farmasi modern dimulai tahun 1897, saat Felix Hoffmann menemukan cara menambahkan dua atom ekstra carbon dan lima atom ekstra hidrogen ke dalam ekstrak (sari pati) kulit kayu Willow sehingga menghasilkan Acetylsalicylic acid (astosal) yang selanjutnya dikenal dengan aspirin. Untuk mengembangkan produk ini didirikan perusahaan farmasi modern pertama di dunia, yaitu Bayer (The economist, Februari 1988, diambil dari Format Industri Farmasi Indonesia, Amir Hamzah Apne).
  • Mulai abad ke-19, yang  disertai dengan kepesatan pencapaian sains dan teknologi secara umum, bidang farmasi terus berkembang. Malah berbagai bidang keahlian mulai diperkenalkan seperti bidang kimia farmasi, farmakognosi, farmakologi dan mikrobiologi. Berikutnya timbulnya revolusi industri di Eropa juga memunculkan bidang baru seperti teknologi farmasi atau farmasi industri. Bidang-bidang keahlian di atas saling berkaitan dan bersama-sama dengan pengetahuan sains serta kedokteran terus menyokong farmasi sebangai satu bidang profesial. Semua bidang keahlian ini hingga sekarang merupakan keahlian inti yang dikembangkan oleh setiap Perguruan Tinggi Farmasi, termasuk di Indonesia. Seiring berkembangnya ilmu kefarmasian, bidang keahlian lain pun sekarang telah mulai diterapkan di Indonesia, seperti Farmasi Klinik dan Farmakoekonomi.

SEJARAH PERKEMBANGAN FARMASI DI INDONESIA

Pengetahuan Farmasi sebagai profesi di Indonesia sebenarnya relatif masih “muda” dan baru dapat berkembang secara berarti setelah masa kemerdekaan. Pada zaman penjajahan, baik pada masa pemerintahan Hindia Belanda maupaun masa pendudukan Jepang, kefarmasian di Indonesia pertumbuhannya sangat lambat dan profesi farmasi masih belum dikenal secara luas oleh masyarakat.

Sampai Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, tenaga-tenaga farmasi Indonesia pada umumnya terdiri dari asisten apoteker dengan jumlah relatif sangat sedikit. Tenaga-tenaga apoteker pada masa penjajahan umumnya berasal dari Denmark, Austria, Jerman dan Belanda.

Disekitar perang kemerdekaan, kefarmasian di Indonesia mencatat sejarah yang sangat berarti yakni dengan didirikannya Perguruan Tinggi Farmasi di Klaten pada tahun 1946 dan di Bandung pada tahun 1947.

Lembaga Pendidikan Tinggi Farmasi yang didirikan pada masa perang kemerdekaan ini pada kenyataannya mempunyai andil yang besar bagi perkembangan sejarah kefarmasian pada masa-masa berikutnya.

Dewasa ini, kefarmasian di Indonesia telah tumbuh dan berkembang pesat. Industri farmasi di Indonesia dengan dukungan teknologi yang cukup modern, telah mampu memproduksi obat dalam jumlah yang besar dengan jaringan distribusi yang cukup luas. Sebagian besar (90%) kebutuhan obat nasional, telah dapat dipenuhi oleh industri farmasi dalam negeri. Demikian pula, peranan profesi farmasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kesehatan. Serta, peranan profesi farmasi dalam pelayanan kesehatan telah semakin berkembang dan sejajar dengan profesi-profesi kesehatan lainnya.

Pada kesempatan lain, penulis akan membahas mengenai cabang ilmu atau bidang keahlian farmasi. Mudah-mudahan informasi diatas dapat bermanfaat.

Science Around Us! [ZMR]

 

Referensi :

American Pharmaceutical Association, The National Professional Society of Pharmacicts, “The Final Report of the Task Force on Pharmacy education, Washington DC.

Artikel Lintasan Sejarah Kefarmasian di Indonesia dalam http://karyatulisilmiah.com.

Gennaro, A.R. [Ed.]  (1990) “ Remington’s Pharmaceutical Sciences”, Mack Publishing Co, Easton, Pennsylvania.

History of Pharmacy in Pictures – http://www.pharmacy.wsu.edu/

Feature image was taken from here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s